Penciptaan Iklim Belajar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan wahana pendidikan yang menyediakan tempat terbaik bagi anak untuk belajar, artinya semua upaya manajemen dan kepemimpinan yang terjadi di sekolah diarahkan pada usaha membuat seluruh peserta didik belajar dalam atmosfir/iklim belajar yang kondusif. Dari iklim yang kondusif akan memotivasi siswa belajar. Semakin tinggi motivasi belajar akan semakin baik pula prestasi belajar siswa tersebut. Oleh karena itu kami akan membahas tentang “Pengaturan Kondisi dan Penciptaan Iklim Belajar”

  1. B. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk lebih mendalami Pengelolaan Kelas dalam Sub Topik Penciptaan Kondisi dan Penciptaan Iklim Belajar serta untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur pada mata kuliah Pengelolaan Kelas.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Iklim Belajar

Ada beberapa istilah yang kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan kata climate, yang diterjemahkan dengan iklim, seperti feel, atmosphere, tone, dan environment.  Dalam konteks ini, istilah iklim kelas digunakan untuk mewakili kata-kata tersebut di atas dan kata-kata lain seperti learning environment, group climate dan classroom environment.

Bloom (1964) mendefinisikan iklim dengan kondisi, pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial, dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik.   Hoy dan Forsyth (1986) mengatakan bahwa iklim kelas adalah organisasi sosial informal dan aktivitas guru kelas yang secara spontan mempengaruhi tingkah laku.

Di samping itu, Hoy dan Miskell (1982) mengatakan bahwa iklim merupakan kualitas dari lingkungan (kelas) yang terus menerus dialami oleh guru-guru, mempengaruhi tingkah laku, dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka.  Selanjutnya, Hoy dan Miskell (1982) menambahkan bahwa istilah  iklim  seperti halnya  kepribadian pada manusia.  Artinya, masing-masing kelas mempunyai ciri (kepribadian) yang tidak sama dengan kelas-kelas yang lain, meskipun kelas itu dibangun dengan fisik dan bentuk atau arsitektur yang sama.  Moos (1979) juga menambahkan bahwa iklim kelas seperti halnya manusia, ada yang sangat berorientasi pada  tugas, demokratis, formal, terbuka, atau tertutup.

Dengan berdasar pada beberapa pengertian iklim dan atau iklim kelas di atas, maka dapat dipahami bahwa iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antarpeserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses belajar-mengajar.  Situasi di sini dapat dipahami sebagai beberapa skala (scales) yang dikemukakan oleh  beberapa ahli dengan istilah seperti kekompakan (cohesiveness), kepuasan (satisfaction), kecepatan (speed), formalitas (formality), kesulitan (difficulty), dan demokrasi (democracy) dari kelas.

  1. Penciptaan kelas yang kondusif

Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat mendukung terciptanya iklim  belajar yang kondusif yaitu:

– kehangatan dan keantusiasan

– tantangan

– bervariasi

– keluesan

– Penekananan pada hal-hal yang positif

– penanaman disiplin.
Kehangatan dan keantusiasan guru dapat mempermudah terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar mengajar yang optimal.

Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar, dan interaksi belajar mengajar yang bervariasi merupakan kunci tercapainya pengelolaan kelas yang efektif yang sekaligus dapat menghindari kejenuhan.

Keluesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.

Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

Pengembangan disiplin diri sendiri oleh siswa merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk itu, guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi contoh atau teladan tentang pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.
Iklim kelas yang dapat mendorong proses pembelajaran yang efektif, yaitu: menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, menguatkan, menghidupkan, dan memberi kebebasan.
Menyenangkan terkait dengan aspek afektif (perasaan). Guru harus bera¬ni meng¬ubah iklim dari suka ke bisa. Guru harus memilki jiwa pendidik; bersikap ramah, suka tersenyum, ber¬komunikasi dengan santun dan patut, adil terhadap semua siswa, dan senanatiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.
Mengasyikkan terkait dengan perilaku (learning to do). Guru hendak¬nya da¬pat me-ngundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembel¬ajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Untuk itu, guru harus menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang me¬narik yang dekat dengan kehidupan siswa. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus de¬ngan baik oleh guru.
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegency). Pemberdayaan otak kiri dan otak kanan ha¬rus dicermati dalam proses pembelajaran. Pilihlah tema yang da¬pat meng¬ajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab¬nya. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendi¬dikan normatif ke dalam mata pel¬ajaran sehingga menjadi adaptif dalam kese¬harian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan ke-cakapan hidup (life skill).

Menguatkan terkait dengan proses 3 M sebelumnya. Jika anak se¬nang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melain¬kan juga me¬kar¬nya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar. Anak-anak yang memiliki pri¬badi yang kuatlah yang diharapkan bangsa kita un¬tuk mengatasi dan keluar dari berbagai kemelut multidimensi dan dapat menyongsong era globalisasi.
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya.

Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.

Prakarsa anak untuk belajar (the will to learn) akan mati bila kepadanya dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tak ada kaitannya dengan belajar, sebagaimana ditemukan dalam paradigma behavioristik. Banyaknya aturan yang seringkali dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah. Lebih jauh lagi, anak-anak akan kehilangan kebebasan berbuat dan melakukan kontrol diri (Kontrol diri, dalam hal ini, bisa menjadi modal awal penumbuhan penghargaan pada keragaman).

  1. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Aldridge, 2002 (dalam Rosyada, 2004:167) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitias pembelajaran, seorang guru harus mengembangkan berbagai perlakuan:

(1) Guru harus mampu menciptakan situasi kelas yang tenang, bersih, tidak stress, dan sangat mendukung untuk pelaksanaan proses pembelajaran;

(2) Guru harus menyediakan peluang bagi para siswa untuk mengakses seluruh bahan dan sumber informasi untuk belajar;

(3) Gunakan model cooperative learning (belajar secara kooperatif) melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, debat, atau bermain peran;

(4) Hubungkan informasi baru pada sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa, sehingga mudah untuk mereka pahami;

(5) Dorong siswa untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan makalahnya dan dalam kajian yang mendalam;

(6) Guru harus memiliki catatan-catatan kemajuan dari semua proses pembelajaran siswa, termasuk tugas-tugas individual dan kelompok mereka dalam bentuk portofolio.
De Porter (2004:67) menyatakan dalam menciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun mental untuk belajar diantaranya:

(1) perabot, jenis dan penataan,

(2) pencahayaan,

(3) musik,

(4) visual-poster, gambar, papan pengumuman,

(5) penempatan persediaan,

(6) temperatur,

(7) taman,

(8) kenyamanan,

(9) suasana hati secara umum.
Iklim pembelajaran yang diciptakan dari lingkungan belajar yang tepat adalah:

(1) ciptakan suasana nyaman dan santai,

(2) gunakan musik supaya terasa santai, terjaga, dan siap untuk berkonsentrasi,

(3) gunakan pengingat-pengingat visual untuk mem¬pertahankan sikap positif,

(4) berintraksilah dengan lingkungan Anda untuk menjadi pelajar yang lebih baik (De Porter, 2004:65).
Iklim belajar membawa dampak terhadap perkembangan anak. Kurt Lewin dan Ronal Lippit (1939) dalam Nasution (2004:135) meneliti mengenai perbedaan iklim demokratis dan otokrasi dalam pembelajaran. Mereka menyimpulkan bahwa:

(1) Iklim otokrasi lebih banyak dikeluarkan kecaman tajam bersifat pribadi, sedangkan dalam iklim demokrasi terdapat suasana kerja sama, pujian terhadap sesama teman, saran-saran konstruktif, dan kesediaan menerima buah pikiran orang lain;

(2) Iklim otokrasi lebih ditonjolkan diri sendiri, soal ’aku’, sedangkan dalam iklim demokrasi adalah suasana ke-’kita’-an;

(3) Suasana oktokrasi, adanya pimpinan yang kuat menghalangi orang lain untuk memegang pimpinan, sedangkan dalam iklim demokrasi beda status sosial pimpinan dan yang dipimpin kecil sekali sehingga pada suatu saat setiap orang mudah memegang kepemimpinan dalam hal ia memiliki kelebihan;

(4) Idividualitas muris berkembang dalam iklim demokrasi sedangkan perkembangan tertekan dalam iklim otokrasi;

(6) Dalam iklim otokrasi tindakan kelompok bukan tertuju kepada pemimpin melainkan terhadap salah seorang anak didik sebab anak didik mudah dijadikan kambing hitam, secara potensial setiap anak didik dapat menjadi saingan atau lawan anak didik lainnya.

BAB III

PENUTUP
A.  Kesimpulan

Pengelolaan kelas yang dapat mendukung terciptanya atmosfir belajar yang kondusif yaitu: kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, keluesan, penekananan pada hal-hal yang positif, dan penanaman disiplin. Iklim kelas yang dapat mendorong proses pembelajaran yang efektif, yaitu: menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, menguatkan, menghidupkan, dan memberi kebebasan.

  1. B. Saran

Atmosfir atau iklim yang tercipta dalam interaksi belajar mengajar di kelas memegang peranan penting dalam menstimulasi dan mempertahankan keterlibatan siswa dalam belajar. Karena itu, guru perlu menciptakan iklim belajar yang dapat membangkitkan komunikasi dan interaksi dalam kelas sehingga tujuan pembel¬ajaran tercapai secara maksimal.

Advertisements

ProYek Perangkat Lunak

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Penjadwalan proyek merupakan pekerjaan yang sangat menentang bagi manajer perangkat lunak.  Dasar pemikiran adanya penjadwalan adalah sering adanya keterlambatan dalam penyelesaian proyek tersebut. Time is Money, jadi apabila Proyek Terlambat akan menyebabkan berbagai macam  masalah dalam semua aspek. Oleh karena itu Penjadwalan adalah hal yang sangat penting dalam Manajemen Perangkat Lunak. Oleh karena kami sebgai Pemakalah akan membaha tentang “Penjadwalan Proyek dan Alokasi sumber daya”

B.Rumusan Masalah

1. Konsep Dasar Penjadwalan

2. Prinsip Penjadwalan

3. Metode Penjadwalan

4.Alokasi Sumber daya

C.Tujuan Penulisan

Adapun Tujuan dari Penulisan makalah ini adalah untuk lebih mendalami tentang Penjadwalan Proyek khususnya Proyek Perangkat Lunak. Dan juga untuk melengkapi nilai pada mata uliah Manajemen Proyek Perangkat Lunak.

BAB II

PEMBAHASAN

A.Konsep Dasar Penjadwalan

Benyamin Franklin sering mengatakan kepada beberapa pebisnis muda yaitu “time is money, time is money”. Ekspresi ini menangkap satu hal yang esensial bagaimana modern finance, mengukur nilai sebuah proyek dengan menentukan the time value dari sebuah investasi sebagaimana terkait dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Untuk mencapai hal tersebut, seorang manajer proyek harus dapat memprediksi, dengan sense yang kuat atas kepastian dari project time requirements (waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan) sehingga manajer proyek dapat menentukan cost (biaya) yang dihabiskan untuk menyelesaikan proyek.

Proyek dapat dikatakan merupakan kombinasi dari kegiatan-kegiatan (activities) yang saling berkaitan dan harus dilaksanakan dengan mengikuti suatu urutan tertentu sebelum seluruh tugas dapat diselesaikan secara tuntas.

Berdasarkan penelitian CHAOS study pada tahun 2003, sebanyak limapuluh persen (50%) proyek IT menunjukkan kenaikan keterlambatan waktu penyelesaian proyek. Keterlambatan ini disebabkan Oleh:

1) Batas waktu yang tidak realistis

2) Perubahan kebutuhan pelanggan yang tidak ada dalam perubahan jadwal

3) Memandang rendah jumlah usaha & sumber daya yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan

4) Resiko yang dapat diramalkan & tidak dapat diramalkan yang tidak dipertimbangkan pada proyek tersebut

5) Kesulitan teknis & manusia yang tidak dapat dilihat sebelumnya

6) Kegagalan manajer proyek untuk mengetahui bahwa proyek sudah ketinggalan dari jadwal yang ada & kurang tindakan dlm memecahkan masalah tersebut.

7) Kesalahan komunikasi di antara staff proyek yang mengakibatkan  penundaan proyek

Isu tentang penjadwalan adalah alasan utama terjadinya konflik dalam proyek khususnya selama paruh kedua dalam proyek. Waktu adalah hal yang hal yang paling tidak fleksibel, akan terus berlalu apapun yang terjadi dalam proyek.

Penjadwalan proyek merupakan bagian yang paling penting dari sebuah perencanaan proyek, yaitu untuk menentukan kapan sebuah proyek dilaksanakan berdasarkan urutan tertentu dari awal sampai akhir proyek.

Jadi penjadwalan proyek meliputi kegiatan menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus diselesaikan dan waktu yang dibutuhkan oleh setiap aktivitas dalam proyek.

Penjadwalan Proyek merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang  Manajer Proyek dalam:

1.     Membagi projek kedalam bentuk tugas dan estiamsi waktu serta sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

2.    Pengorganisasian tugas yang bersamaan untuk membuat jadwal yang optimum.

3.     Meminimumkan ketergantungan tugas untuk menghindari adanya jeda waktu (delay) yg ditimbulkan oleh suatu tugas yang pengerjaannya harus menunggu tugas lainnya selesai.

Penjadwalan proyek dibutuhkan untuk membantu seorang manajer proyek sehingga dapat:

q     Menunjukkan hubungan tiap-tiap kegiatan terhadap keseluruhan proyek.

q     Mengidentifikasikan hubungan yang harus didahulukan di antara kegiatan.

q     Menunjukkan perkiraan biaya dan waktu yang realistis untuk tiap kegiatan .

q     Membantu penggunaan tenaga kerja, uang dan sumber daya lainnya dengan cara mencermati hal-hal kritis pada proyek.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membuat jadwal pelaksanaan proyek :

  1. Kebutuhan dan fungsi proyek tersebut. Dengan selesainya proyek itu proyek diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.
  2. Keterkaitannya dengan proyek berikutnya ataupun kelanjutan dari proyek selanjutnya.
  3. Alasan social politis lainnya, apabila proyek tersebut milik pemerintah.
  4. Kondisi alam dan lokasi proyek.
  5. Keterjangkauan lokasi proyek ditinjau dari fasilitas perhubungannya.
  6. Ketersediaan dan keterkaitan sumber daya material, peralatan, dan material pelengkap lainnya yang menunjang terwujudnya proyek tersebut.
  7. Kapasitas atau daya tampung area kerja proyek terhadap sumber daya yang dipergunakan selama operasional pelaksanaan berlangsung.
  8. Produktivitas sumber daya, peralatan proyek dan tenaga kerja proyek, selama operasional berlangsung dengan referensi dan perhitungan yang memenuhi aturan teknis.
  9. Cuaca, musim dan gejala alam lainnya.
  10. Referensi hari kerja efektif.

B.Prinsip-prinsip dalam Penjadwalan Proyek

q     Pembagian

Proyek harus dibagi-bagi ke dalam sejumlah tugas & aktifitas yang dapat dikendalikan untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan yang ada (melakukan dekomposisi masalah).

q     Saling Ketergantungan

Adanya saling ketergantungan dari setiap tugas & aktifitas yang dibagi harus ditentukan dari awal penjadwalan proyek .

q     Alokasi Waktu

Setiap tugas yang akan dijadwalkan harus dialokasikan kedalam sejumlah satuan kerja (mis. Person-day dll).

q     Validasi Kerja

Setiap proyek memiliki staff tertentu, dimana pada saat pembagian tugas, harus dipastikan bahwa tidak akan kelebihan alokasi waktu atau jumlah SDM pada saat tertentu.

Masalah-masalah yang sering dihadapi dalam Penjadwalan Proyek diantaranya adalah sebagai berikut:

q     Produktifitas tidak berbanding lurus dengan jumlah orang yang mengerjakan tugas.

q     Seringkali hal tersebut diatasi dengan solusi penambahan personal pada akhir proyek, namun solusi ini dikhawatirkan dapat menyebabkan adanya overhead komunikasi antar personal dalam proyek karena terlalu banyak personal yang terlibat dalam proyek.

q     Segala sesuatu yang tidak diharapkan bahkan hal yang paling buruk mungkin akan terjadi, sehingga membutuhkan suatu perencanaan yang matang dalam penjadwalan proyek, apabila perlu dibuat perencanaan cadangan dalam proyek.

C.Metode penjadwalan proyek

  1. 1. GANTT CHART (TIME LINE)

q     Pada tahun 1917, Henry Gantt mengembangkan sebuah metode untuk membantu penjadwalan job shops. Metode ini akhirnya terkenal dan dipakai sampai sekarang dengan nama Gantt Chart.

q     Gantt Chart adalah suatu metode yang bernilai khususnya untuk proyek-proyek dengan jumlah anggota tim yang sedikit.

q     Gantt Chart merupakan suatu grafik dimana ditampilkan kotak-kotak yang mewakili setiap tugas dan panjang masing-masing setiap kotak menunjukkan waktu pengerjaan tugas-tugas tersebut dalam format pewaktuan tertentu seperti jam, hari, tanggal, minggu, bulan atau tahun .

Bentuk Diagram Gant Chart:

Beberapa keuntungan dalam menggunakan Gantt Chart:

q     Sederhana, mudah dibuat dan dipahami, sehingga sangat bermanfaat sebagai alat komunikasi dalam penyelenggaraan proyek.

q     Dapat menggambarkan jadwal suatu kegiatan dan kenyataan kemajuan sesungguhnya pada saat pelaporan.

Beberapa kerugian dalam menggunakan Gantt Chart:

q     Tidak menunjukkan secara spesifik hubungan ketergantungan antara satu kegiatan dan kegiatan yang lain, sehingga sulit untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh keterlambatan satu kegiatan terhadap jadwal keseluruhan proyek.

q     Sulit mengadakan penyesuaian atau perbaikan/pembaharuan bila diperlukan, karena pada umumnya ini berarti membuat bagan balok baru.

  1. 2. DIAGRAM PERT (Program Evaluation and Review Technique)

q     Pada tahun 1958, Booz Allen Hamilton menemukan sebuah metode penjadwalan yang diberi nama diagram PERT, merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique.

q     Diagram PERT dapat digunakan untuk mempermudah proses perencanaan dan penjadwalan untuk proyek dengan kapasitas besar dan kompleks karena mampu mengatasi ketidakpastian dalam proyek tanpa perlu tahu durasi dari setiap aktifitas.

q     Pada diagram PERT, suatu aktifitas dalam proyek diwakili dengan jaringan simpul dan tanda panah yang kemudian dievaluasi untuk menentukan kegiatan-kegiatan terpenting, meningkatkan jadwal yang diperlukan dan merevisi kemajuan-kemajuan saat proyek telah dijalankan. Jadi pada metode PERT ini dilakukan dengan cara pembentukan diagram anak panah.

q     PERT (Program Evaluation and Review Technique) adalah teknik untuk membagi suatu proyek atau kegiatan induk menjadi kegiatan-kegiatan individual yang lebih kecil dan menyusunnya dalam suatu jaringan kerja atau jalur kerja yang logis sehingga jangka waktu dan biaya pengerjaan program dapat dikurangi serendah mungkin. Dalam PERT, peristiwa (event) biasanya dilukiskan dalam bentuk lingkaran, dan aktifitas atau kegiatan dilukiskan dalam bentuk tanda panah yang menghubungkan dua buah lingkaran.

Bentuk Diagram PERT

Diagram PERT dianggap lebih baik apabila dibandingkan dengan Gantt Chart, yaitu diantaranya karena hal-hal sebagai berikut :

q     Mudah mengidentifikasi tingkat prioritas dalam sebuah proyek.

q     Mudah mengetahui ketergantungan (dependency) antara kegiatan (activity) yang satu dengan yang lain dalam sebuah proyek.

ANALISIS PERT

Merupakan penetapan lama prakiraan waktu paling mungkin untuk menyelesaikan tugas (D) merupakan faktor dari:

q     Optimistic Time (a) yaitu prakiraan waktu minimal yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

q     Pessimistic Time(b) yaitu prakiraan waktu maksimal yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

q     Most Likely Time(m) yaitu prakiraan waktu harapan yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Rumusnya yaitu: t = (a + 4m + b)/6

  1. 3. CPM (Critical Path Method)

q     Sebuah metode penjadwalan yang dikembangkan oleh Du Pont dan Remington Rand, dapat digunakan untuk aktifitas dimana durasinya sudah diketahui.

q     CPM  adalah singkatan dari Critical Path Method atau Metode Jalur Kritis. Jalur kritis adalah jalur terlama antara titik dimulai sampai dengan titik penyelesaian proyek.

Critical Path Method (CPM) dikatakan juga sebagai jalur kritis dimana jalur ini adalah lintasan/jalur dimana terdapat aktivitas-aktivitas yang paling banyak memakan waktu, mulai dari permulaan dikerjakannya proyek sampai berakhirnya pekerjaan tersebut.

Maksud dan tujuan dari jalur kritis ini yaitu:

q     Penundaan pekerjaan pada jalur kritis menyebabkan seluruh aktivitas proyek akan tertunda juga.

q     Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya bila pekerjaan-pekerjaan yang terdapat di jalur kritis dapat dipercepat.

q     Pengawasan dan pengontrolan hanya dipercepat pada jalur kritis saja, maka pekerjaan-pekerjaan di jalur ini harus:

1.         Perlu adanya pengawasan yang ketat agar penyelesaian nya tidak tertunda.
2.         Kemungkinan dengan melakukan crash program dapat mempersingkat penyelesaian     dengan resiko biaya akan bertambah

q   Kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak dilalui jalur kritis. Hal ini memungkinkan bagi manajer untuk merealokasikan/memindahkan tenaga kerja, alat-lata dan biaya pekerjaan-pekerjaan pada jalur kritis demi efisiensi.

Jalur kritis dalam suatu proyek adalah jalur yang memerlukan waktu paling lama untuk menyelesaikan proyek. Jadi, jalur kritis tidak pernah memiliki suatu slack (kekenduran/kelonggaran). Jika terjadi keterlambatan di sepanjang jalur kritis, maka keseluruhan proyek akan terlambat juga.

Gambaran sederhana CPM:

  1. 1 jalur kritis, 2 orang dalam 1 tim proyek
  1. 3 jalur kritis, 3 orang dalam 1 tim proyek
  1. 10 jalur kritis, 5 orang dalam 1 tim proyek

Contoh Penjadwalan dengan Metode CPM:

Beberapa teknik yang digunakan dalam menggunakan CPM yaitu:

q     Buat daftar semua aktifitas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan project.

q     Buat daftar waktu yang diperlukan oleh masing-masing aktifitias tersebut untuk menyelesaikan tugasnya.

q     Buat daftar ketergantungan antara aktifitas tersebut dalam project.

Terdapat beberapa perbedaan antara CPM dengan PERT, yaitu:

q     CPM menggunakan satu jenis waktu untuk taksiran waktu kegiatan sedangkan PERT menggunakan tiga jenis waktu, yaitu: prakiraan waktu teroptimis, termungkin, dan terpesimis.

q     CPM digunakan kala taksiran waktu pengerjaan setiap aktifitas diketahui dengan jelas, sedangkan PERT digunakan saat taksiran waktu aktifitas tidak dapat dipastikan seperti aktifitas tersebut belum pernah dilakukan atau mempunyai variasi waktu yang besar.

q     PERT berbasiskan statistik memberikan peluang hadirnya ketidakpastian. Hal tersebut, tampak dalam misal untuk mengukur probabilitas selesainya proyek jika kita inginkan proyek selesai pada suatu waktu tertentu, sedangkan CPM menganggap proyek terdiri dari peristiwa susul menyusul.

q     Meskipun demikian, CPM dan PERT mempunyai tujuan yang sama dimana analisis yang digunakan adalah sangat mirip yaitu dengan menggunakan diagram anak panah.

q     Dapat dikatakan CPM merupakan variasi dari PERT.

q     Perbedaan pokok antara CPM dan PERT terletak pada penentuan perkiraan waktunya.dimana PERT menggunakan rumus: t=(a+4m+b)/6 sedangkan CPM menggunakan perhitungan Jalur Kritis (Critical Path).

D.Alokasi Sumber Daya

Sumber Daya adalah item yang dibutuhkan untuk memungkinkan terselesaikannya suatu proyek. Contohnya: Man Power, Perlengkapan, Ruang dan Waktu, Uang atau modal, Bahan Baku, Komponen dan Bahan Pendukung.

Dalam Proyek perangkat Lunak ada 3 Sumber Daya yang digunakan, yaitu

  • Sumber Daya Manusia
  • Sumber Daya Perangkat Lunak
  • Sumber Daya Lingkungan

Jadi Alokasi Sumber daya adalah  kegiatan atau proses mengalokasikan seluruh sumber daya yang ada dalam proyek sehingga kegiatan proyek dapat berjalan dengan baik dan benar

Metode dalam Alokasi Sumber Daya:

q   Algoritma Lang : dikembangkan Oleh Douglas W.Lang

1.Urutkan aktivitas berdasarkan ”Latest Start Time”

2.Apabila aktivitas memiliki ”Latest Start Time” sama,maka urutkan berdasarkan:

-float terkecil

-waktu durasi terpanjang

-kebutuhan sumber terbesar

q   Algoritma Brooks : dikembangkan Oleh G.H. Brooks

1.buat jaringan pekerjaan dengan prosedur lintsan kritis, tentukan aktivitas dan waktu yang dibutuhkan.

2.Tentukan waktu maksimum untuk setiap aktivitas yang mengendalikan jaringan pada satu path.

3.urutkan ACTIM(Activity Control Time) dari waktu terlama hingga terpendek.

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Penjadwalan merupakan titik puncak dari aktivitas perencanaan yang menjadi komponen utama dari manajemen proyek perangkat lunak. Apabila dikombinasikan dengan metode estimasi dan analisis resiko, penjadwalan merupakan sebuah peta jalan bagi manajer proyek.

Penjadwalan proyek merupakan bagian yang paling penting dari sebuah perencanaan proyek, yaitu untuk menentukan kapan sebuah proyek dilaksanakan berdasarkan urutan tertentu dari awal sampai akhir proyek.

Jadi penjadwalan proyek meliputi kegiatan menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus diselesaikan dan waktu yang dibutuhkan oleh setiap aktivitas dalam proyek.

Adapun Metode yang digunakan dalam Penjadwalan Proyek adalah:

v     Gant Chart

v     Diagram PERT

v     CPM

B.Saran

Untuk menghindari keterlamabatan dalam Pelaksanaan Proyek sebaiknya Manajer Melakukan Penjadwalan Proyek  dengan Berbagai Metode yang bias diaksanakan supaya Proyek dapat berjalan dengan Lancar dan Tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Sommerville, ian. 2003. Software Engineering,edisi 6 jilid 1. Jakarta : Erlangga.

S.Pressman Ph.D, Roger. 2002. Rekayasa Perangkat Lunak buku satu. Yogyakarta : Penerbit    Andi.

Bahan Kuliah Software Project Management for university of Melboune

Bahan Kuliah Software Project Management for Columbia University

http://lecturer.ukdw.ac.id/othie/projectmanage.pdf

www.cs.ru.nl/~ths/sdm1/theo2008/SchedulingTracking.ppt

http://www.4pm.com/articles/selpmsw.pdf

http://dwimustikawati.wordpress.com/2008/06/26/manajemen-perangkat-lunak/

PenjadwaLan Proyek

PENJADWALAN PROYEK PERANGKAT LUNAK

Penjadwalan proyek meliputi kegiatan menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus diselesaikan, bahan baku, tenaga kerja serta waktu yang dibutuhkan oleh setiap aktivitas. Pendekatan yang lazim digunakan adalah digram Gantt Chart, PERT (Project Evaluation and Review Technique), dan CPM (Critical Path Method).

Penjadwalan dibutuhkan untuk membantu:

  • Menunjukkan hubungan tiap kegiatan lainnya dan terhadap keseluruhan proyek.
  • Mengidentifikasikan hubungan yang harus didahulukan di antara kegiatan.
  • Menunjukkan perkiraan biaya dan waktu yang realistis untuk tiap kegiatan.
  • Membantu penggunaan tenaga kerja, uang dan sumber daya lainnya dengan cara hal-hal kritis pada proyek

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membuat jadwal pelaksanaan proyek :

  1. kebutuhan dan fungsi proyek tersebut. Dengan selesainya proyek itu proyek diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.
  2. keterkaitannya dengan proyek berikutnya ataupun kelanjutan dari proyek selanjutnya.
  3. alasan social politis lainnya, apabila proyek tersebut milik pemerintah.
  4. kondisi alam dan lokasi proyek.
  5. keterjangkauan lokasi proyek ditinjau dari fasilitas perhubungannya.
  6. ketersediaan dan keterkaitan sumber daya material, peralatan, dan material pelengkap lainnya yang menunjang terwujudnya proyek tersebut.
  7. kapasitas atau daya tampung area kerja proyek terhadap sumber daya yang dipergunakan selama operasional pelaksanaan berlangsung.
  8. produktivitas sumber daya, peralatan proyek dan tenaga kerja proyek, selama operasional berlangsung dengan referensi dan perhitungan yang memenuhi aturan teknis.
  9. cuaca, musim dan gejala alam lainnya.

10. referensi hari kerja efektif.

Gantt Chart

Gantt chart adalah suatu alat yang bernilai khususnya untuk proyek-proyek dengan jumlah anggota tim yang sedikit, proyek mendekati penyelesaian dan beberapa kendala proyek.

  1. Gantt chart secara luas dikenal sebagai alat fundamental dan mudah diterapkan oleh para manajer proyek untuk memungkinkan seseorang melihat dengan mudah waktu dimulai dan selesainya tugas-tugas dan sub- sub tugas dari proyek.
  2. Semakin banyak tugas-tugas dalam proyek dan semkin penting urutan antara tugas-tugas maka semakin besar kecenderungan dan keinginan untuk memodifikasi gantt chart.
  3. Gantt chart membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan “what if” saat melihat kesempatan-kesempatan untuk membuat perubahan terlebih dahulu terhadap kebutuhan.

Keuntungan menggunakan Gantt chart :

  • Sederhana, mudah dibuat dan dipahami, sehingga sangat bermanfaat sebagai alat komunikasi dalam penyelenggaraan proyek.
  • Dapat menggambarkan jadwal suatu kegiatan dan kenyataan kemajuan sesungguhnya pada saat pelaporan
  • Bila digabungkan dengan metoda lain dapat dipakai pada saat pelaporan

Kelemahan Gantt Chart :

  • Tidak menunjukkan secara spesifik hubungan ketergantungan antara satu kegiatan dan kegiatan yang lain, sehingga sulit untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh keterlambatan satu kegiatan terhadap jadwal keseluruhan proyek.
  • Sulit mengadakan penyesuaian atau perbaikan/pembaharuan bila diperlukan, karena pada umumnya ini berarti membuat bagan balok baru.

PERT/CPM

PERT dapat mengidentifikasi sebuah tugas atau sekumpulan tugas yang menggambarkan suatu aliran penting yang ditetapkan bagi keberhasilan proyek. Bentuk dari bagan ini disebut Precedence Network (jaringan yang diutamakan). Setiap kotak menujukkan sebuah kegiatan. Pada setiap kotak ditulis nama kegiatan dan waktu yang diperlukan.

Bagan PERT dan jalur kritis adalah jumlah jalur, atau serangkaian kegiatan yang dapat ditelusuri pada PERT sederhana di atas, dengan mengikuti petunjuk garis panah. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri setiap jalur dapat dijumlahkan dengan menambahkan lamanya waktu dari jalur masing-masing kegiatan.

Secara fundamental PERT hampir sama dengan Critical Path Method (Metode Jalur Kritis) yang lebih dikenal dengan CPM. Jalur kritis dalam suatu proyek adalah jalur yang memerlukan waktu paling lama untuk menyelesaikan proyek. Jadi, jalur kritis tidak pernah memiliki suatu slack (kekenduran/kelonggaran). Jika terjadi keterlambatan di sepanjang jalur kritis, maka keseluruhan proyek akan terlambat juga.

Berikut ini adalah bentuk sederhana dari PERT :

  1. 1 jalur kritis, 2 orang dalam 1 tim proyek
  1. 3 jalur kritis, 3 orang dalam 1 tim proyek
  1. 10 jalur kritis, 5 orang dalam 1 tim proyek

Contoh Kasus:

Diketahui aktivitas sebuah proyek sebagi berikut:

Dari kasus tersebut diselesaikan dengan menggunakan POM for Windows

Dari table tersebut dapat dilihat waktu yang diperlukan melalui jalur kritis yaitu 19

Gantt chart

Dari Gantt Chart tersebut jalur yang berwarna merah adalah jalur kritis, yaitu jalur dengan waktu penyelesaian proyek terlama. Ada 2 jalur kritis yaitu:

A – C – G dan B – E  – G .

Diagram PERT

Jalurnya adalah:

A – C – G  : 6 + 3 + 10 = 19

B – E – G : 5 + 4 + 10 = 19